Faktor penyebab pendidikan di indonesia masih rendah
Pendidikan adalah salah satu cara paling tepat untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas seseorang. Dengan pendidikan, seseorang bisa mengasah dan mengembangkan bakat ataupun skillnya. Walaupun kesuksesan tidak 100% menjamin kesuksesan seseorang, namun pendidikan itu menjadi faktor utama kesuksesan seseorang.
Jika kita bandingkan, pendidkan dinegara kita dengan negara negara maju, sudah jelas kita masih kalah jauh, baik dari segi sdm maupun sda nya. Mungkin hal itu disebabkan oleh beberapa faktor, yang mengakibatkan pendidikan dinegara kita itu masih kalah dari negara maju, diantaranya adalah :
1. Sistem pembelajaran hanya terpaku pada buku
Sistem pembelajaran di Indonesia hingga saat ini masih terpaku pada buku paket yang sudah ditentukan oleh masing-masing sekolah berdasarkan kurikulum yang berlaku. Meskipun buku memang sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar, namun tidak seharusnya pembelajaran hanya terpusat pada buku saja karena pelajar pun memerlukan wawasan yang lebih luas dari isi dalam buku tersebut. Sudah seharusnya sistem pembelajaran seperti ini diubah agar para pelajar dapat lebih berkembang dan mereka mempunyai inisiatif untuk mencari referensi dari sumber yang lain selain dari buku yang mereka miliki.
2. Pembelajaran dengan ‘Metode Ceramah’
Pernahkan guru Anda mengajak Anda melakukan aktivitas belajar di luar ruang kelas? Atau pernahkan guru Anda melakukan metode belajar yang menurut Anda menyenangkan sehingga membuat Anda bersemangat untuk belajar?
Hampir bisa dipastikan, sebagian besar anak Indonesia akan mengatakan tidak. Hal ini karena para guru hanya sekedar menjelaskan materi pelajaran di depan kelas dan terkadang sifatnya hanya satu arah dari guru tersebut ke siswa. Jarang sekali ada guru di Indonesia yang menggunakan metode lain untuk anak didiknya. Padahal metode ceramah seperti ini cenderung membosankan sehingga para siswa akan mudah merasa bosan dan tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik. Tentu hal ini akan berakibat buruk juga untuk para pelajar itu sendiri.
Metode ceramah ini sebenarnya metode yang baik, namun jika porsinya tidak tepat justru akan memperburuk pemahaman siswa. Lebih baik jika metode ceramah ini dilengkapi dengan metode lain seperti diskusi sehingga guru akan lebih paham akan kesulitan belajar yang dialami siswanya. Metode diskusi ini bisa membuat siswa belajar berkomunikasi dan menyampaikan pendapat.
3. Kurangnya sarana belajar
Fasilitas turut menunjang proses kegiatan belajar mengajar. Selain itu, sarana dan prasarana yang baik, dan memadai, tentu mempunyai efek yang baik juga terhadap proses pemebelajarannya. Jika keinginan siswa untuk belajar sudah tinggi namun tidak didukung oleh fasilitas maka akan sia-sia. Saat ini di Indonesia, ketersediaan sarana prasarana tersebut belum merata. Banyak sekolah daerah terpencil yang belum memiliki fasilitas yang memadai bagi para siswanya. Tentunya hal ini menghambat pembelajaran yang berlangsung di sekolah tersebut.
Hal ini sangat berbeda dengan sekolah di kota besar yang sebagian besar fasilitas penunjangnya seperti perpustakaan dan laboratorium sudah terpenuhi. Hingga kini pemerataan fasilitas penunjang pendidikan Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang sama baiknya.
4. Tidak digunakannya metode pertanyaan terbuka
Apa sebenarnya metode pertanyaan terbuka ini?
Metode pertanyaan terbuka merupakan metode ujian dengan cara memberikan soal, tetapi pelajar/mahasiswa boleh menjawab soal tersebut dengan membaca buku. Metode ini telah diterapkan oleh negara Finlandia dan menjadi salah satu ciri metode pendidikan di sana. Mungkin Anda bertanya kenapa harus mengacu pada sistem pendidikan di Finlandia? Karena saat ini Finlandia masih menduduki peringkat pertama dalam hal kualitas pendidikan sehingga tidak ada salahnya jika Indonesia sedikit banyak belajar dari Finlandia.
Hingga kini, Indonesia masih belum berani untuk menerapkan metode pertanyaan terbuka ini karena ada kekhawatiran banyak pelajar/mahasiswanya yang menyontek. Selain itu banyak tenaga pendidik yang masih merasa berat membuat soal-soal yang sifatnya terbuka. Hal ini membuat sistem ujian di Indonesia sebagian besar masih berkutat pada pilihan ganda.
Metode pertanyaan terbuka memang sistem yang masih asing di Indonesia. Padahal metode ini memungkinkan siswa lebih memiliki daya berpikir kreatif dan bisa mengembangkan ilmu yang telah diperolehnya. Kebiasaan menjawab soal dengan cara menghapal sudah sering dilakukan oleh siswa di Indonesia. Padahal cara seperti ini cenderung membebani mereka karena mereka seolah dituntut untuk mengingat sesuai yang ada di buku sementara daya ingatnya terbatas.
Penerapan metode pertanyaan terbuka ini memang tidak dapat diterapkan secara instan karena dapat membuat siswa kaget dengan perubahan yang cukup drastis. Namun, tidak ada salahnya jika Indonesia mulai mencoba menerapkan metode ini sedikit demi sedikit sehingga pelajar Indonesia bisa terdorong untuk memahami buku dan ilmu secara lebih luas.
5. Maraknya budaya menyontek
Menyontek mungkin sudah tidak asing lagi bagi para pelajar di Indonesia. Untuk menghilangkan kebiasaan ini pun tidak mudah karena diperlukan pembentukan karakter dengan cara yang tepat sehingga membuat para pelajar paham akan kerugian dari kebiasaan buruk itu. Penghapusan budaya mencontek pun memerlukan sumbangsih para orang tua agar mereka menanamkan pendidikan karakter pada anak-anaknya sedini mungkin.
Di negara-negara maju, kebiasaan menyontek sangat jarang terjadi karena pertanyaan-pertanyaan dalam ujian biasanya bersifa objektig sehingga pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab sesuai pengetahuan yang dimiliki oleh siswa yang bersangkutan.
Saat ini, beberapa institusi pendidikan di Indonesia sudah mulai menerapkan aturan yang ketat mengenai kebiasaan menyontek ini. Salah satunya adalah Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Di kampus ini, mahasiswa yang ketahuan menyontek akan langsung terkena sanksi Drop Out (DO). Meskipun aturan ini terkesan ekstrim,namun efektif untuk memusnahkan budaya menyontek. Jika semua kampus menerapkan sistem DO ini, maka 5 atau 10 tahun kedepan Indonesia bisa memiliki generasi-generasi penerus bangsa yang profesional dan amanah.
Itulah beberapa faktor yang menyebabkan pendidikan dinegara kita itu masih kalah dibandingkan dengan negara negara maju. Sudah seharusnya, kita sebagai generasi muda, untuk ikut membantu dalam proses memperbaiki pendidikan diindonesia dan melakukan gerakan perubahan untuk memperbaiki pendidikan dinegara kita.





Comments
Post a Comment